Showing posts with label ceritaku. Show all posts
Showing posts with label ceritaku. Show all posts

Thursday, June 25, 2020

Part 2 - Bebenahan gaya non Minimalis

Sudah terlihat dengan jelas, aku bukan minimalis, dan ga pengen juga tiba-tiba jadi minimalis dengan membuang semua barang yang dimiliki. I love having stuff, they sparks joy. "quote Konmari


Tapi punya lemari baju dua kali dua penuh dengan tumpukan baju, celana dll, beserta laci-laci di luar lemari untuk menampung tambahan-tambahannya. Ditambah koper2 penuh dengan barang2 berkode "mungkin kapan2 bisa dipake lg" atau "mungkin bisa dijual"

Kayaknya too much ya. It's a wake up call. Barang-barang yang bertumpuk tidak sparks joy.


OK ud ngaku. I have too much stuff.
Tapi.. ngebayangin menghabiskan waktu weekend santai ku dengan bebenahan sampai semua rapi, ga rela ya. Berapa kali weekend harus aku habiskan? Ngebayanginnya aja ud bikin demotivasi.

Jadi bagaimana memulainya?


Aku melakukan apa yang biasa kulakukan di weekend, bersantai menikmati sabtu minggu tenang. 
Tapi kali ini sambil menapak tilas apa saja yang sudah kulakukan dalam usaha merapikan rumah.


1. sempet cobain 30 days challenge dr buku the minimalist, di mana aku harus menyingkirkan barang sejumlah hari.

hari 1 buang 1 barang,

hari 2 buang 2 barang,

hari ke 3 buang 3 barang dan seterusnya sampe hari ke 30 buang 30 barang.

Pada kenyataannyaaku terlalu ga sabar untuk yang sedikit2 kayak gini, dan karena waktu itu barang-barangku kepisah-pisah, aku jadi kurang pede menyingkirkannya. kayak kaos kaki, mana kepikiran untung menyingkirkan, wong nemu sepasang aja susah.

Tapi ini mengajarkan aku untuk lakukan pelan-pelan dari yang mudah, biar lama2 terbiasa dan ga berasa berat . Okeh, catat


2. pakai cara si Konmari, kalo rapiin barang sebaiknya yg sekelompok, bukan by ruang tp by tipe barang. ini setuju banget, karena untuk org yg doyan ngebala di mana2 kayak aku ini, barang2 setipe emang ada di mana2. baju, tas, handuk, bisa di kamar 1, kamar 2 bahkan di ruang tamu. nah... Sudah kulakukan, tapi semua barang tetap banyak dan bertumpuk. Dengan alasan yes sparks joy, aku masih sayang sama barang-barangku itu. Kalau dijual ga ada harganya, tapu ga rela dikasih or dibuang karena dulu belinya juga ga murah-murah amat.

3. Seorang profesional organizer bernama, Andrew Mellen dalam bukunya "Unstuff Your Life, mengatakan: "Stuff is Stuff".

dia bilang hanya kamu yg bisa memutuskan berapa banyak barang yg kamu ingin miliki, dan dalam salah satu woskhopnya dia bilang, kalo semua barang yg kamu miliki berasanya penting semua atau berharga semua, mungkin memang semua penting, mungkin memang semua berharga.

Tp coba bayangkan disaat genting, disaat kamu hanya punya waktu dikit untuk selamatkan semua barang penting dan berhargamu. Apa dl yg akan kamu selamatkan? you will realize, itu yg paling penting dan paling berharga buatmu.

Ngena banget ini sama aku, kata "Stuff is Stuff". kita simpan dan sayang2 pun ga bakal jd duit lagi. Ok, catat. 


Anyway, 

Semua penulis dan inspirator di atas, punya tujuan akhir yg sama.

At the end of the day, kalo barang2 yang kamu miliki saat ini ga ada gunanya, juga ga bikin kamu happy aka sparks joy. Buat apa terus-terusan disimpan? Just keep the thing that you love, that is important to u, and it's useful. Dan mulai berbagi, kali-kali barang yang sudah ga penting buatmu, bisa berguna untuk orang lain.



OK, ini rencanaku


Mulai cari cara menyingkirkan barang dengan cepat, tapi sebisa mungkin bukan dengan cara dibuang. 

Stop beli barang yang sudah punya stok banyak untuk sementara, supaya tidak semakin bertumpuk.


Ketika bermasalah dengan kaos kaki, sebagian besar barang sudah dikelompokkan di "rumah" nya masing-masing. Jadi aku bisa mulai dengan yang ringan-ringan dulu, pulang kerja kuhabiskan waktu 1-2 jam paling maksimal, begitu pula weekend.



Buku textbook kuliah
Dulu waktu beli, harganya mahal banget dan tebal, besar, makan tempat, tapi semua masih terlihat mulus (ketahuan ga dibaca-baca amat :p). Ga rela buang, tapi dijualpun itu edisi keluaran 10 tahun tahun lalu, siapa yang mau beli.  so aku foto dan kirim ke teman ku yang dosen di kampus almamaterku, tanya apakah perpustakaan kampus mau terima. jawabannya yes. So bye bye textbook, semoga berguna.


Gelas/mug.  
Hadiah belanja, bingkisan satu bulanan, bingkisan nikahan teman. lebih dari 20 gelas/mug aku kumpulkan. Aku tanya security komplek, ada yang baru mau nikahan atau pindahan rumah tidak, aku mau kasih gelas, masih baru, mulus. aku kasih tunjuk fotonya. Dan yes, bye bye gelas/mug. 
psst. aku masih punya banyak, karena tiap aku travelling juga demen banget beli mug, tapi all have special meaning, jadi masih aku simpan.  


Buku Novel
Salah satu kebiasaan gilaku adalah, beli buku fisik, tapi baca buku dari ebook. Alasannya, kalo aku lagi ingin baca buku di coffee shop, aku bawa buku fisik. Jarang sekali terjadi, pertama aku pelupa. Dan jarang banget merencanakan ke coffee shop untuk duduk manis dan baca, biasanya ga terencana.
Yang ada, banyak buku novel ku masih mulus dan banyak yang masih diplastikin. 
Ini mau aku jual.

 
Pakaian, tas, sepatu boots dan banyak lagi


Aku sempet jual pakaian dan tas di salah satu market place, cape banget tawar menawarnya. Mungkin memang aku pasang harga kemahalan, atau mungkin mereka memang suka nawar aja. Tapi, aku ga pengen ribet lagi, ga pengen jualan lagi. 
Tapi aku ingat, barang yang disimpan pun ga jadi uang. So aku akan jual dengan harga lebih murah dan sebagian uangnya akan kusumbangkan. Masih belum tahu mau disumbangkan ke mana. nanti tanya teman-teman dulu,






Part 1 - Balada kaos kaki

Di Indonesia, terutama di kota besar seperti Jakarta, banyak orang menggunakan jasa  ART, or jasa bersih-bersih harian. Jasa tersebut jadi jalan keluar terbaik untuk karyawan, untuk entrepreneur, yang sudah seharian sibuk di luar, pulang macet-macetan, sampai di rumah terlalu lelah bahkan untuk mikir harus bebenahan.


Dengan mudah pekerjaan bersih-bersih di rumahku juga terselesaikan dengan menggunakan jasa mereka. Mereka bantu nyapu, ngepel, lap kaca dan permukaan meja, dll. Aku hanya tinggal merapikan barang-barang supaya tidak terlihat berserakan di meja or di lantai. Gampang dan cepat, tinggal susun rapi barang-barang yang ada di atas meja dan memasukkan barang-barang ke lemari, or laci terdekat.


Laci-laci yang penuh selipan


Setelah selesai rapi-rapi



Ok, fine. Maybe it’s not the best solution. Dan dalam beberapa hari pun, akan berserakan lagi. Tapi mayan lah, kalo pas ada tamu datang ke rumah. Yang penting bersih, mereka kan ga bakal gragasan buka-buka laci. Hehe. 


Tentu saja lama-lama lemarinya pun penuh, so aku beli laci atau kotak cantik untuk tempat penyimpanan. Dan beberapa kali dalam setahun aku berusaha declutter (bahasa kekinian bebenahan kayaknya nih). 


Hari Senin sampai Jumat sibuk dengan pekerjaan dan semua kegiatan lain, Sabtu Minggu, biasanya dihabiskan dengan bersantai di rumah sambil nonton, or baca buku or tidur seharian (the best). 

Sabtu minggu kali ini dihabiskan dengan kegiatan memilah barang-barang, mana yang dibuang, mana yang disumbangkan, mana yang dijual, dipisahkan dibeberapa kotak ditaruh sementara di kamar tamu slash ruang kerja slash gudang, dan dirapikan kembali sisanya, dimasukkan ke kotak or lemari terdekat. 


Di satu sudut kamar tamu slash gudang slash ruang kerja

Dan ku lanjutkan hidupku, kerja seharian, pulang ke rumah, panggil jasa bersih-bersih kalau sudah kotor dan berantakkan


Tahun demi tahun berlalu, kegiatan de-clutter masih kulakukan. Banyak buku tentang “organizing your stuff”, “how to be a minimalist” kubaca, YouTube tentang decluttering (cara bebenahan) ditonton. Akan tetapi lemari, laci, dan kotak-kotak barang tetap semakin banyak. Karena pada kenyataannya, barang yang ingin disumbangkan dan dijual aja masih bertumpuk, tak tersentuh.

Inget laci di atas? sekarang posisinya sudah digantikan dengan rak besi, bisa simpan barang lebih banyak.

Tetapi rumah masih terlihat "bersih", karena semua tersimpan tersembunyi.

Rak baru, untuk kotak-kotak tambahan

Tambah rak = tambah barang

Tetap ku lanjutkan hidupku, kerja seharian, pulang ke rumah, panggil jasa bersih-bersih kalau sudah kotor dan berantakkan




Kaos kaki


Tiap kali mau pakai kaos kaki, harus cari dulu, harus ngubeg aka ngacak-ngacak lemari baju or laci or tas laundry. 

Lebih rusuh lagi kalo pas butuh beberapa kaos kaki sekaligus untuk dibawa travel, kamar uda kayak abis perang dunia kedua, semua diacak-acak. Sering banget berakhir dengan beli kaos kaki lagi, tapi entah kenapa tetep aja berakhir dengan yg uda butut, yang kendor bahkan yang bolong or beda pasangan, karena yang baru lenyap entah kemana. 


Kesel akutu, kalo lagi jalan-jalan, harus berhenti beberapa kali karena kaos kaki merosot ke bawah, dan  nyangkut di telapak kaki.


Ga nyaman banget jalan-jalan di mall sambil sebentar-sebentar korek-korek sepatu benerin kaos kaki. 

Ga pede banget travelling bawa kaos kaki butut hanya karena aku gatau taro kaos kaki di mana aja. 


So disuatu weekend, seperti biasa ku bongkar semua barang dan bebenahan dimulailah. Tapi kali ini dengan 1 misi yang berbeda. Setiap kaos kaki yg kutemukan, kukumpulkan disatu tempat. Dari lemari baju, lemari sepatu, kotak-kotak, dan dari laci-laci lainnya.

Hasilnya mencengangkan.

 

Setelah membuang yang sudah butut dan memisahkan kaos kaki yang hanya tinggal sebelahpun, masih terkumpul lebih dari 50 pasang kaos kaki yg masih bisa digunakan, OMG, gila pake banget. Beberapa diantaranya masih baru pula, gila pake banget banget. 


Beda-beda tipe sih, ada yang tebal, tipis, compression socks, yang berbulu dan soft buat bobo, buat olahraga, buat sehari2 (ankle length). Yes, tetep ini masi banyak banget, tapi setidaknya sekarang aku tau, bisa irit uang karena ga perlu beli kaos kaki sampai ribuan tahun, ok lebay, 5 tahun perhaps?. Anyway.. ini bahagia banget lho rasanya. 

Untuk 5 tahun ke depan


So namanya manusia ya, kalo uda ngerasain bahagia, pasti nagih. Diweekend itu aku ga berhenti sampai situ, mulai kukelompokkan barangku yang lain-lain, dan masing-masing aku “rumahkan” disatu tempat yang sama.

Sama seperti kaos kaki, setiap barang yang dikumpulkan dengan kawanannya, selalu mencengangkan hasilnya, jumlahnya lebih banyak dari yang kuduga.


Lalu .. aku mulai mikir, kalau setiap tipe barang harus kurumahkan, berarti harus beli laci dan lemari lagi untuk menciptakan makin banyak “rumah” buat barang-barang itu.

Terus, kalo rumahku jadi rumah barang-barang, aku tinggal di mana?


Bersambung...