Sudah terlihat dengan jelas, aku bukan minimalis, dan ga pengen juga tiba-tiba jadi minimalis dengan membuang semua barang yang dimiliki. I love having stuff, they sparks joy. "quote Konmari
Tapi punya lemari baju dua kali dua penuh dengan tumpukan baju, celana dll, beserta laci-laci di luar lemari untuk menampung tambahan-tambahannya. Ditambah koper2 penuh dengan barang2 berkode "mungkin kapan2 bisa dipake lg" atau "mungkin bisa dijual"
Kayaknya too much ya. It's a wake up call. Barang-barang yang bertumpuk tidak sparks joy.
1. sempet cobain 30 days challenge dr buku the minimalist, di mana aku harus menyingkirkan barang sejumlah hari.
hari 1 buang 1 barang,
hari 2 buang 2 barang,
hari ke 3 buang 3 barang dan seterusnya sampe hari ke 30 buang 30 barang.
Pada kenyataannyaaku terlalu ga sabar untuk yang sedikit2 kayak gini, dan karena waktu itu barang-barangku kepisah-pisah, aku jadi kurang pede menyingkirkannya. kayak kaos kaki, mana kepikiran untung menyingkirkan, wong nemu sepasang aja susah.
Tapi ini mengajarkan aku untuk lakukan pelan-pelan dari yang mudah, biar lama2 terbiasa dan ga berasa berat . Okeh, catat
2. pakai cara si Konmari, kalo rapiin barang sebaiknya yg sekelompok, bukan by ruang tp by tipe barang. ini setuju banget, karena untuk org yg doyan ngebala di mana2 kayak aku ini, barang2 setipe emang ada di mana2. baju, tas, handuk, bisa di kamar 1, kamar 2 bahkan di ruang tamu. nah... Sudah kulakukan, tapi semua barang tetap banyak dan bertumpuk. Dengan alasan yes sparks joy, aku masih sayang sama barang-barangku itu. Kalau dijual ga ada harganya, tapu ga rela dikasih or dibuang karena dulu belinya juga ga murah-murah amat.
3. Seorang profesional organizer bernama, Andrew Mellen dalam bukunya "Unstuff Your Life, mengatakan: "Stuff is Stuff".
dia bilang hanya kamu yg bisa memutuskan berapa banyak barang yg kamu ingin miliki, dan dalam salah satu woskhopnya dia bilang, kalo semua barang yg kamu miliki berasanya penting semua atau berharga semua, mungkin memang semua penting, mungkin memang semua berharga.
Tp coba bayangkan disaat genting, disaat kamu hanya punya waktu dikit untuk selamatkan semua barang penting dan berhargamu. Apa dl yg akan kamu selamatkan? you will realize, itu yg paling penting dan paling berharga buatmu.
Ngena banget ini sama aku, kata "Stuff is Stuff". kita simpan dan sayang2 pun ga bakal jd duit lagi. Ok, catat.
Anyway,
Semua penulis dan inspirator di atas, punya tujuan akhir yg sama.
At the end of the day, kalo barang2 yang kamu miliki saat ini ga ada gunanya, juga ga bikin kamu happy aka sparks joy. Buat apa terus-terusan disimpan? Just keep the thing that you love, that is important to u, and it's useful. Dan mulai berbagi, kali-kali barang yang sudah ga penting buatmu, bisa berguna untuk orang lain.
Stop beli barang yang sudah punya stok banyak untuk sementara, supaya tidak semakin bertumpuk.
Ketika bermasalah dengan kaos kaki, sebagian besar barang sudah dikelompokkan di "rumah" nya masing-masing. Jadi aku bisa mulai dengan yang ringan-ringan dulu, pulang kerja kuhabiskan waktu 1-2 jam paling maksimal, begitu pula weekend.


















